Saturday, September 26, 2009

one centimeter each day

At first
The darkness kept me companied
Alone in it for eternity
Shall I be captived

Then
A shining tear fell
Making me one centimeter closer
To an emotion called sadness

A light made it through the dark
Showing a smile
Making me one centimeter closer to happiness

The way my hearts beat so fast
Scared of my loneliness
Making me one centimeter closer
To a strange fear

The way I want to be touched
Freed from the dark shadow
Making me one centimeter closer
To the warm light

In the end
I'm one centimeter closer
To you...

Monday, August 24, 2009

Everything

Every time I look at the sky, I felt so little like a mouse. The beautiful blue sky just lying there above my head, and I am standing under it every day of my life. I wonder when can I touch it? Feel it?

It's Impossible, isn't it? I'm not smart and I don't really want to be a pilot or an astronaut, so how can i really feel the atmosphere up there?

Monday, July 6, 2009

tralalala (8)

Do you like saying good bye and move towards your future?
Well, i never like it....

Have you ever think of the consequences? Like not able to see your friends anymore, like never going to go back again? or even never coming back and remember the sweet memories?

To be able to protect the one that you care so much...
To be able to see them smile and spend their time with you....
To be with your loved ones...

Your friends...
Your family...
Your boyfriend/girlfriend...

Every people is precious to someone...
doing whatever you pleased and abandoned their feeling is so stupid...

Let me ask you once more,
do you care for them the way they care for you?

Life is one big world and adventure for all of us...
and we only have one of it...
so treasure it!!!!

Saturday, June 20, 2009

Stars and Humans

The stars are always so beautiful... Standing beside the moon with its beautiful shining ray... But do you know that the stars age are very short in the galactical scale? Actually, I don't know myself... But if you see closely, sometimes the brightest star disappear frm the sky... And when just I wanted to see it.
Humans age are also short. No one is immortal and eternal. Only their souls are. At least, that is what I believe in. Well, as a human being, we will fall and also shine. When we shine and feel happy, we are like the stars. When the stars are shining brightly... The moon is like our companion. And also the sun. And when the star dimmed and died. The shining and glorious days are over. But some people will still remember it. As for humans? We die and burried deep in the ground. But our names and our deeds will still be remember by the person that we help, the person that really love us, the closest person in our life. That's why, when I see the stars in the nightsky... I can feel very calm and afraid in the same time. How about you?

Saturday, June 13, 2009

Bunga Indah dihamparan ladang kematian

Satu-satu aku sayang ibu...
Dua-dua aku sayang ayah...
Tiga-tiga sayang adek kakak...
satu dua tiga sayang semuanya...

Lagu kecil itulah yang pertama kali kudengar saat melewati panti asuhan kecil di desaku. Desa kami bisa dibilang sedikit lebih besar daripada desa sebelah. Ditambah, pertanian dan perternakan kami juga sangat sejahtera. Tapi, kami selalu mendapati anak-anak jalanan dan yatim piatu dari desa lain maupun dari jalan besar disamping.

"Kakak.... Panti Asuhan Aero mana ya? Kata mama, aku disuruh kesana... Soalnya di rumah enggak ada orang lagi..." kata seorang anak laki-laki di saat aku menyusuri sawah menuju rumah. Ia hanya membawa secarik kertas yang bahkan sudah kusam dan lecek. Pakaiannya robek dan membuat lubang-lubang yang besar. Alas kakinya pun hanya sebatas sandal yang bahkan sudah kekecilan. Rambutnya hitam dan pendek, sangat berantakan dan tak terawat. Kulitnya yang sawo matang terlihat kotor dan banyak luka. Tetapi, matanya menunjukkan sinar yang luar biasa.

"Kakak anterin ya?" Aku menjulurkan tangan dan menggandengnya. Tangannya yang kecil hangat sekali.

"Nama kakak siapa? Aku Robert..." katanya memulai pembicaraan di perjalanan kami.

"Nama kakak Sinta... Kamu umurnya berapa? Kok kamu bisa sampai ke desa ini?" tanyaku sambil akhirnya menggendong tubuhnya yang kecil di punggungku.

"Aku umurnya lima tahun, kak. Aku disuruh mama kesini lewat surat kecil yang kupegang... Kata mama, aku harus cari panti asuhan... Karena aku udah enggak boleh tinggal di rumah lagi..." katanya sambil membuka surat yang ia pegang. Kasihan sekali, pikirku. Anak yang baru berumur lima tahun ini sudah kehilangan ibunya dan juga rumahnya.

"Oh, tuh kamu lihat? Rumah kecil itu adalah rumah bagi 20 anak yang tidak punya orang tua... Mereka diasuh dan diajari berbagai macam hal disana layaknya anak-anak Ibu panti sendiri..." kataku sambil menurunkan Robert. Aku mengetuk pintu panti asuhan itu perlahan-lahan dan dengan sopan. Ibu Aisyah yang merupakan ibu panti membukanya dengan senyum.

"Sinta? Siapa anak kecil yang disampingmu itu? Anak yang kamu temukan lagi?" tanyanya sambil mengusap kepala Robert.

"Iya bu... Dia mencari panti asuhan ini melalui surat yang diberikan oleh ibunya..." kataku dengan senyum.

"Ibu... ini surat dari mamaku... katanya harus diberikan kepada ibu panti asuhan aero ini..." katanya dengan polos.

"Oh iya, terima kasih Sinta... Aku akan mengabarimu jika ada sesuatu lagi... Saya punya perasaan kalau kamu akan dibutuhkan kembali..." kata Ibu Aisyah.

"Iya bu... Robert, aku permisi dulu ya? Kak Sinta mau pulang... Besok kakak akan kembali kesini..." kataku sambil meninggalkan Robert dan Ibu Aisyah. Ternyata, memang ada suatu rahasia di balik panti asuhan yang ramah itu. Iya, rahasia yang tidak pernah diketahui olehku. Rahasia itu dikunci baik-baik oleh mereka. Dan rahasia itu dibongkar oleh kedatangan Robert yang kutemukan...

~bersambung~